Dua kenaikan ke langit yang berbeda

Sama-sama naik ke langit tapi tidak sama.

Di bulan Mei tahun ini 2015, dan kebetulan bertepatan dengan bulan Rajab 1436 H, terdapat dua peringatan sehubungan dengan dua ceritera tentang peristiwa kenaikan ke langit yang berbeda :

Pertama, Setiap tanggal 14 Mei, umat Nasrani memeringati apa yang dinamakan hari kenaikan Yesus Kristus. Menurut versi Nasrani, Yesus wafat tanggal 3 April tersalib di tiang salib dan dikuburkan pada hari itu juga; tiga hari kemudian dia bangkit dari tempat kuburannya; dan setelah empat puluh hari dari kebangkitan itu, yaitu pada tanggal 14 Mei, dia naik ke langit lalu duduk di samping Tuhan.

Kedua, Di lain pihak pada tanggal 16 Mei 2015 bertepatan dengan 27 Rajab 1436 H (besok lusa) , adalah kebetulan bertepatan dengan hari kenaikan Nabi Muhammad SAW ke langit dari Masjid Aqsha di Bait Almaqdis / Quds / Jerusalem atau yang dikenal dengan “mi’raj”. Peristiwa tersebut terjadi di suatu malam di bulan Rajab , sebagai kelanjutan dari perjalanan darat Nabi di malam yang sama, sebelum naik, yang menempuh jarak dari Masjid Haram di Makkah ke Masjid Aqsha, atau yang dikenal dengan “isra'”. Peristiwa terjadi pada kira-kira dua tahun sebelum Nabi berhijrah ke Madinah.

Di kalangan Arab terjadi pembedaan penggunaan istilah untuk kedua peristiwa kenaikan ke langit tersebut, yang pertama “shu’oud”, yang kedua “mi’raj”.

Dalam peristiwa kenaikan / mi’raj Nabi Muhammad tersebut, dia menerima perintah dari Tuhan untuk melakukan shalat lima kali / fardhu, yang kaifiyahnya / cara-caranya seperti yang dilakukan umat islam sekarang.

Nampaknya shalat mendapat perhatian khusus dari Tuhan, sehingga penyampaiannya kepada Muhammad memerlukan untuk menaikkannya ke langit, karena ibadah yang satu ini sangat nampak kekentalan ekspressi tauhidnya dalam bentuk pelaksanaan ibadah dan penyembahan hanya kepada-Nya, tidak seperti puasa Ramadhan, zakat dan haji,  yang tidak nampak ke-tauhidannya.

Ibadah shalat yang diterima Nabi Muhammad itu merupakan perubahan drastis dari sembahyang yang biasa dilakukan oleh masyarakat Arab binaan beliau. Shalat tidak seperti ibadah-ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Makkah, para penyembah berhala. Tuhan yang disembah dalam shalat tidak berbentuk, tidak terlihat dan tidak dapat dijangkau oleh panca indera. Dia wujud di alam ghaib. Pelaku shalat menyembah Tuhan yang tidak dilihatnya dan yang tidak bisa dibayangkan bentuk-Nya, karena iman.

Ibadah shalat betul-betul memurnikan penyembahan kepada Allah, tidak ada unsur persekutuan atau penyekutuan sesembahan-sesembahan palsu dengan Allah. Ibadah shalat itu merupakan perwujudan dari keyakinan tauhid / pengesaan kepada Allah. Hal ini dapat dilihat dari gerakannya dari mulai berdiri menghadap ke arah kiblat, yaitu Ka’bah di Makkah, dengan niat menghadap Allah terus ruku’ (menundukkan tubuh) hingga sujud (menyungkur) kepada Allah. Shalat merupakan sebuah bentuk pengesaan yang totalitas kepada Tuhan berdasarkan iman.

Shalat menjadi perhatian Tuhan, sehingga perintah pelaksanaannya dititahkan di langit dan tidak di bumi, untuk membuktikan bahwa perintah shalat dan tata caranya datang dari Tuhan dan bukan dari karangan atau rekayasa Muhammad.

Begitu pentingnya ibadah shalat, karena menegakkan shalat berarti membangun komunikasi dengan Tuhan. Pada waktu shalat itu sebenarnya kita berbicara kepada Tuhan. Kata shalat artinya doa yang artinya juga mengajukan permohonan. Tuhan berjanji akan mengabulkan permohonan kita bila doa itu kita hadapkan kepada-Nya (QS Baqarah : 186 dan Ghafir : 60). Maka apa bila kita menghendaki agar doa kita didengar Tuhan, lakukanlah shalat.

Selanjutnya ibadah shalat mendapat perhatian khusus itu dapat kita fahami adanya kecenderungan umat untuk merasa keberatan dan bermalas-malas dalam melakukannya karena merupakan ibadah individual yang bersifat harian yang berkelanjutan selama hidup. Tidak seperti puasa, yang sekalipun berat hanya berlangsung satu bulan per tahun , tidak pula seperti zakat dan haji. Oleh sebab itu shalat dikatakan sebagai pilar agama, sehingga kalau tidak ada yang menjalankannya maka Islam tak akan nampak tegak lagi di muka bumi, karena ibadah shalat itulah ibadah yang kelihatan sehari-hari. Oleh karenanya tegaknya shalat berarti tegaknya agama dan tidak dijalankannya shalat berarti kebinasaan agama. .

Kenaikan Muhammad untuk menerima perintah shalat memberikan isyarat tentang bobot dan pentingnya shalat. Sehingga orang yang menerima perintah tersebut tidak menganggap remeh serta tidak mengentengkannya dan agar diketahui bahwa yang tidak melakukannya akan menanggung resikonya.

Sehubungan dengan ibadah shalat ini, ada ceritera yang disampaikan Quran tentang kehidupan akherat, khususnya tentang neraka di mana para penghuni Neraka ditanya mengapa mereka masuk Neraka. Mereka menjawab bahwa salah satu sebab adalah bahwa mereka waktu hidup di dunia, tidak pernah mengerjakan shalat (QS Muddatstsir : 42 – 43).

Dalam ceritera kenaikan atau mi’raj itu selain terjadinya perintah shalat, dipertunjukkan pula kepada Nabi Muhammad berbagai macam contoh siksaan yang nantinya aka diterima oleh para pendurhaka sesuai perbuatan masing-masing.

Dengan demikian, kenaikan  Muhammad ke langit merupakan “perjalanan dinas” untuk menerima tugas / beban baru berupa perintah shalat, yang harus dilakukan olehnya dan oleh umatnya .

Bookmark the permalink.

Leave a Reply