Zaman & Pendidikan

Oleh: Ahmad Robitul Wafa
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan zaman, sebab ia hanya waktu yang harus dan akan terus berjalan sesuai dengan ketentuan Tuhan. Tetapi acap kali zaman–seakan–selalu menjadi ‘kambing hitam’ yang tepat ketika terjadi suatu gejala/ fenomena sosial yang tidak sejalan dengan norma dan etika yang telah lama berlaku dalam lingkup sekelompok masyarakat. Terlebih saat ini, dengan adanya media sosial, semua orang–baik yang memang memahami atau hanya sekedar mengerti–akan lebih leluasa menghakimi segala sesuatu yang tidak sejalan dengan ide pikirannya masing-masing, sehingga persoalan (gejala/ fenomena sosial) yang seharusnya dapat terjawab dan terselesaikan dengan pendekatan keilmuan menjadi kabur dan tidak jarang melahirkan suatu konflik baru di masyarakat.

Akar pokok dari semua ini tidak lain adalah pendidikan. Tujuan dan pola pendidikan yang tidak substansif dan setengah matang akan menghasilkan sesuatu yang tidak matang pula. Pendidikan yang hanya mengedepankan sifat formalnya akan menutup mata pada kebutuhan pokok manusia terdidiknya. Maksudnya, harus kita sadari bahwa pendidikan merupakan kebutuhan pokok bagi manusia (bukan bagi perusahaan/ negara yang akan mempekerjakannya), dengan begitu memahami dan menghitung kembali unsur pembentuk kemanusiaannya menjadi kunci utamanya. Sehingga nantinya pendidikan tidak hanya berkutat pada fisik & otak saja, tetapi pada unsur-unsur lainnya.

Mengenai konsep, tujuan dan pola pendidikan, sudah banyak para tokoh terdahulu menuliskan dan mempraktikannya. Hasilnya? Kita bisa melihat para tokoh hebat didikan pola lama itu. Sebagai contoh, Ki Hadjar Dewantara telah menuliskan konsep Tri Logi Pusat Pendidikan yang menggambarkan tiga elemen penyokong terbentuknya ruang pendidikan (formal, informal & nonformal), hal itu telah terjadi di masa lalu dan telah menghasilkan tokoh besar dimasa sekarang.

Dahulu, masyarakat muslim pedesaanpun menerapkan hal itu dalam pendidikan, selain menggantungkan pada peran pemerintah–sebagai pengemban amanat UUD ’45–juga bergantung pada peran tokoh agama–pengemban perintah Tuhan–dan masyarakat itu sendiri yang benar-benar menyadari kebutuhan mereka akan pendidikan.

Pada akhirnya, zaman tidaklah patut bila melulu dipersalahkan, karena kita sebagai manusia memiliki kemampuan lebih untuk menentukan corak zaman yang akan kita ‘diami’. Hitam & putihnya zaman kita sendirilah yang menentukan, sedang menentukannya harus dengan pendidikan yang matang.

‪#‎selamat‬ siang, para pejuang kemanusiaan…

Leave a Reply