Universitas Inggris dikritik soal kualitas pengajaran

Terlalu banyak universitas di Inggris membiarkan pengajaran tertinggal dibandingkan riset, kata Menteri Riset dan Perguruan Tinggi Inggris, Jo Johnson.

Peringatan ini disampaikan Johnson di depan kepala berbagai perguruan tinggi, pada konperensi Universities UK.

Hal ini terjadi, menurut Johson, karena banyak universitas yang melihat ‘keluaran akademis’ sebagai kunci reputasi dan posisi dalam peringkat perguruan tinggi internasional.

“Pengajaran -dengan amat menyesal- dibiarkan tertinggal dibandingkan riset dalam bagian yang menjadi sistem perguruan tinggi kita,” kata Johnson.

“Saya mendengar hal ini ketika bicara dengan para orang tua yang khawatir, misalnya seorang guru fisika yang anaknya drop out dalam dua tahun pertama kuliah ilmu humaniora, dan jarang sekali melihat dosennya mengajar,” kata Johnson lagi.

Perlu dukungan pemerintah

Jo Johnson
Image copyrightConsrvative Party
Image captionMenteri riset dan pendidikan tinggi Jo Johnson mengkritik universitas di Inggris.

“Tambal sulam dalam pengalaman belajar ini tak bisa dibiarkan. Pengajaran perlu mendapatkan perhatian lebih besar.”

Menurut Johnson, dengan uang masuk sebesar £9.000 (Rp197juta) per tahun, mahasiswa Inggris berhak tahu hal yang bisa mereka dapatkan dari universitas mereka.

Bulan Juli, Johnson mengumumkan rencana pembuatan kerangka pengajaran istimewa yang memberi informasi kepada para mahasiswa tentang proses belajar mengajar yang akan mereka terima.

Namun Presiden Universities UK, Prof. Julia Goodfellow mengatakan dukungan kuat pemerintah amat diperlukan oleh universitas untuk memainkan peran penuh dalam memperbaiki hidup masyarakat dan membantu pertumbuhan ekonomi.

“Keistimewaan belajar mengajar hanya bisa didapat dari adanya pendanaan yang stabil dan berlanjut,” kata Goodfellow.

Jaminan pendanaan pemerintah, menurut Goodfellow, adalah hal utama untuk menjamin berlangsungnya pengalaman belajar yang berkualitas tinggi bagi mahasiswa.

Leave a Reply