Setup Menus in Admin Panel

Bina Bangsa 99
cover-deklarasi-tauhid

Deklarasi Tauhid

per EXPIRED

Product Description

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

DEKLARASI TAUHID

(Sebuah Akidah Pembebasan, Sisik-melik Surah Al-Ikhlash),

Oleh

Abdul Latif Fakih

Pamulang: Inbook 2011

xi + 233 hlm, 14,5 x 21 cm.

@Abdul Latif Fakih, 2011

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

All raights reserved

 Penyelaras Bahasa

Saiful Anwar

 Perwajahan

Tim Kreatif INBOOK

 Cetakan I, Agustus 2011

Ramadhan 1432 H.

 Diterbitkan oleh

Inbook

Jl. Melati XIII Blok B5/3 Taman Kedaung

Pamulang – Tangerang Selatan

Phone:  (021) 7421231 e-mail: inbook10@gmail.com]

Kata Pengantar

Sebagaimana kita ketahui bahwa Pancasila merupakan dasar negara Republik Indonesia, di mana sila yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Perumus Pancasila tentu sudah mengenal dan mempelajari lebih jauh tentang budaya bangsa Indonesia, antara lain bahwa mereka adalah bangsa yang beragama, yang berarti bertuhan.

Namun, persepsi dan pemahaman tentang Tuhan Yang Maha Esa tentu tidak sama antara pemeluk agama di Indonesia, tetapi sesuai dengan ajaran atau doktrin agama masing-masing. Persepsi dan pengertian terhadap Tuhan dan kata “Maha Esa” bagi orang yang beragama Islam tentu tidak sama dengan orang yang beragama Yahudi atau Kristen, atau Hindu atau Budha. Dalam hubungan ini Islam telah mengajarkan kepada umatnya, suatu keimanan dan kepercayaan kepada Tuhan, yang hanya dapat dimengerti dan dihayati oleh pemeluknya.

Dalam kaitan ini pula, di sini tidak ada maksud untuk membuat perbandingan, tentang pemahaman terhadap kata “Yang Maha Esa” bagi setiap agama yang ada di Indonesia, akan tetapi pembahasan hanya terfokuskan kepada pemahamannya, menurut persepsi Islam, dalam rangka menguak sisik melik atau apa yang tersirat dari yang tersurat dalam Al-Quran dalam surah “Al-Ikhlash”.  

Islam masuk ke Indonesia dibawa dan disebarkan oleh para pendatang terutama bangsa Arab. Islam secara dominan masuk di Jawa, yang sebelumnya telah memeluk agama Hindu / Budha atau kepercayaan lainnya. Sehingga tidak aneh jika pengaruh masa lalu masih melekat di kalangan sementara orang Islam Indonesia terutama di Jawa. Dalam hubungan ini ada pepatah Arab yang artinya mengatakan: “Orang yang menjadi dewasa sudah pada suatu hal, maka dia akan menjadi tua tetap pada hal yang sama pula.”[1] Artinya bahwa tidak mudah untuk menghilangkan atau merubah suatu kebiasaan yang sudah terlanjur melekat pada seseorang, apalagi sudah dijalani sejak dari kecil, secara turun temurun, sehingga tidak jarang suatu masalah tidak bisa lagi dibedakan apakah ini dari ajaran Islam atau pengaruh dari kebiasaan yang berlaku. Hal ini dapat diperhatikan dari beberapa acara adat “kejawen”, seperti pernik-pernik dalam acara penganten, kelahiran anak, penguburan jenazah, sekatenan, grebegan, tabur bunga, sedekah bumi, acara tanam serta panen padi dan seterusnya. Islam tidak ada hubungannya dengan itu semua. Namun, begitu bijaksananya para pengemban da’wah terdahulu, konon para wali, terutama Sunan Kalijaga dan yang sefaham dengan dia, yang tidak langsung memberantas kebiasaan-kebiasaan masyarakat, yang tidak sejalan dengan Islam, akan tetapi ditolerer dan dibiarkan. Namun pemberantasannya dilakukan secara pelan-pelan dan bertahap, melalui penerangan-penerangan, dan yang paling menonjol adalah dengan tembang, gamelan dan media wayang. Akhirnya Islam dapat memantapkan pengaruhnya terutama, di Jawa.

Demikian pula Islam pada awal munculnya di Makkah, banyak memerhatikan kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat bangsa Arab. Hal-hal yang menyangkut sosial tidak serta-merta diberantasnya, tetapi secara bertahap. Sebagai contoh meminum minuman keras, larangan dilakukan secara bertahap. Semula dikatakan bahwa minuman keras itu ada manfaat atau kegunaannya, akan tetapi mudharat atau bahayanya lebih besar, kemudian dikatakan jika seseorang sedang mabuk, hendaknya tidak melakukan shalat, akhirnya dikatakan bahwa minuman keras itu kotor (rijs) yang dikendalikan oleh setan, maka hendaknya dijauhi. Bahkan sebagian kebiasaan sosial bangsa Arab dikemas kembali dalam bentuk Islam.

Sedangkan hal-hal yang menyangkut akidah, kepercayaan dan ketuhanan, yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, diberantasnya sekaligus secara serentak, dengan tegas, tanpa “tedeng aling-aling”. Sejak lahir, Islam mengumandangkan tauhid dan mengobarkan kecaman serta pemberantasan terhadap kekufuran dan perilaku syirk yang meyakini tuhan banyak serta mempersekutukan penyembahan terhadap Tuhan YME dengan sesembahan yang lain.

Islam menghendaki agar manusia mengawali hidupnya di dunia ini dengan tauhid dan mengakhiri hayatnya dengan tauhid yang sama pula. Oleh sebab itu bayi yang lahir disunatkan untuk dibacakan adzan, yang berisi kalimah tauhid, di telinganya dan saat seseorang menghadapi kematian dianjurkan untuk dibacakan dan ddituntun untuk membaca kalimat tauhid pula, sebagaimana sabda Rasul: “Laqqinu mautakum la ilaha illallah / tuntunlah orang yang (mau) meninggal di antara kalian dengan lafaz ‘la- ila-ha illalla-h’.” Disabdakan pula: “Man ka-na a-khiru kala-mihi la- ila-ha illalla-h dakhala al jannah / barangsiapa yang penghujung katanya kalimat ‘la ilaha illallah’, (pastilah ia) masuk surga.”Dengan demikian, seseorang akan sukses dalam hidupnya di dunia ini bila ia memulainya, menjalaninya dan menutupnya dengan tauhid.

Dalam hubungan ini pula, dalam buku ini tidak akan dibahas tentang Tuhan, sebagai Dzat-Nya, akan tetapi, sesuai dengan nama surah yang ada di hadapan kita, yaitu “al-Ikhlash” yang berarti “pemurnian”, maka pembahasan akan terfokuskan pada pemurnian Tuhan, sebagai Yang Maha Esa, sesuai dengan ajaran surah tersebut.

Semoga berguna bagi yang membaca buku ini,

Pondok Betung

Tangerang, Oktober 2011‏

Abdul Latif Faqih


[1] “man shabba ‘ala shai’, sha-ba ‘alaih”

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Deklarasi Tauhid”

Cart

© 2014 Yayasan Bina Bangsa 99. Rights Reserved